Kongres ke-12, Ikatan Ahli Gula Soroti Isu Penyatuan Pasar Gula

Home / Ekonomi / Kongres ke-12, Ikatan Ahli Gula Soroti Isu Penyatuan Pasar Gula
Kongres ke-12, Ikatan Ahli Gula Soroti Isu Penyatuan Pasar Gula Direktur Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) yang juga Ketua IKAGI 2016-2019, Didik Prasetyo. (FOTO: Istimewa/TIMES Indonesia)

TIMESYOGYAKARTA, YOGYAKARTAIkatan Ahli Gula Indonesia (IKAGI) menyoroti isu terkait komoditas gula di sela pelaksanaan kongres nasional ke-12, Jumat (13/9) di Auditorium LPP Yogyakarta.

Isu itu terutama terkait rencana pemerintah menyatukan Gula Kristal Rafinasi (GKR) dan Gula Kristal Putih (GKP) yang dinilai akan berdampak negatif bahkan berpotensi membuat pabrik gula tebu nasional gulung tikar.

“Isu mengenai penyatuan gula rafinasi dan gula konsumsi ini perlu disikapi pabrik gula berbasis tebu karena dampaknya bisa menurunkan harga," ujar Direktur Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) yang juga Ketua IKAGI 2016-2019, Didik Prasetyo.

Didik menambahkan, dengan SPT 51 ribu per kuintal harga pokok gula bisa Rp 9.800. Sedangkan kalau raw sugar bisa Rp 7.500.

"Kalau disatukan pasti orang mencari lebih murah. Misalnya saja dijual Rp 8.000 saja untuk raw sugar untung tapi kami di gula tebu buntung,” ungkap Didik.

Tak hanya pabrik saja, imbas penyatuan menurut Didik juga sampai pada petani tebu yang bakal semakin merugi. Ia pun berharap para pengusaha pabrik gula tebu melakukan penyampaian aspirasi pada pemerintah terkait wacana penyatuan.

“Di sini seharusnya pemerintah turun tangan, petani tebu diminta berpindah ke komoditi lain atau tetap di tebu, ya itu terserah pemerintah. Apakah pemerintah concern pada petani tebu atau tidak. Isu GKR dan GKP jika dilaksanakan ini maka itu (pabrik gulung tikar) bisa terjadi. Petani dan pabrik gula berbasis tebu akan terdampak,” ungkapnya lagi.

Dalam kongres tersebut juga dibahas penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) produk gula tanah air yang maksimum 200 yang rentan rembesan GKR seperti yang selama ini terjadi. IKAGI pun meminta pemerintah menjelaskan lebih detail neraca kebutuhan gula nasional secara lebih detail dan rinci.

“Percuma kalau neracanya tidak jelas, sangat mungkin rembes gula rafinasi karena warnannya yang hampir mirip jika diturunkan menjadi 200. Masyarakat tidak tahu pokoknya gula kristal putih saja, namun sangat berdampak pada pabrik gula tebu dan petani tebu kita,” ujar dia. 

Selain membahas isu pasar gula, peserta kongres ke-12 mengagendakan pemilihan pengurus baru Ikatan Ahli Gula Indonesia (IKAGI) periode 2019-2022. (*)

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com