Terimakasih atau Terima Kasih

Home / Kopi TIMES / Terimakasih atau Terima Kasih
Terimakasih atau Terima Kasih Wiyono, M.Pd, Pendidik dan penulis di Al Izzah, Batu

TIMESYOGYAKARTA, BATU – MasyaAllah, Allahu Akbar. Begitu luas, dalam, dan tinggi ilmu Allah. Bukti luas dan dalamnya, seandainya air laut dijadikan tinta dan pepohonan yang ada di bumi ini menjadi pena, bahkan ditambah tujuh kali lagi, tetap saja tidak habis untuk menulis dan membahas kalimat Allah. Hal tersebut diabadikan oleh Allah di dalam Al Quran surat Lukman berikut:

Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Sudah tak terhitung kenikmatan yang  Allah berikan kepada kita. (Q.S Lukman: 27). 

Inilah yang patut kita syukuri dengan ungkapan terima kasih. Mengacu pada hal di atas, satu diantaranya mensyukuri bahasa. Ilmu Allah melalui bahasa ini begitu luas dan luar biasa. Sebagai contoh, di dalam pembelajaran bahasa. Terkait bahasa ini, di dalam Al Quran Allah menyinggung dalam Q.S Ibrahim ayat 4. Kandungannya sebagai berikut: 

Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dia-lah Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana. 

Di dalam hal ini penulis akan membahas sedikit terkait bahasa. Bahasa yang dibahas yaitu makna yang terkandung di dalam kata terima kasih. Menurut KBBI, terima berarti menyambut; mendapat (memperoleh) sesuatu. Sedangkan kasih berarti beri atau memberi. Terima kasih bermakna rasa syukur. 

Jika kita kaji di dalam pembelajaran bahasa hal tersebut bermakna mendalam dan luas. Baik makna leksikal, gramatikal, tersurat ataupun tersirat. Pembelajaran bahasa terdiri atas empat aspek. Diantaranya menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Hal tersebut terdiri atas aspek terima dan kasih. Aspek terima yaitu menyimak dan membaca, sedangkan kasih, terdiri atas berbicara dan menulis. 

Mengacu pada hal tersebut sebaiknya seseorang yang sudah menerima akan lebih baik jika mengasih. Di dalam hal ini jika sudah menyimak atau membaca, sebaiknya berbicara/menyampaikan atau menulis. itu sebagai lading amar makruf nahi munkar di media lisan dan tulisan. Namun ada rambu-rambu yang perlu diperhatikan yaitu berbicara dan menulis tentang kebaikan dan kebenaran, jika tidak bisa maka lebih baik diam. Mengapa begitu? Karena siapa yang beriman kepada Alah dan hari akhir sebaiknya berbicara yang baik atau diam ..(Al Hadist). Itu sebagai bentuk rasa syukur terhadap ilmu pengetahuan. Itulah bukti bahwa ilmu Allah meliputi segala sesuatu. Dasarnya pada pernyataan tersebut, mari kita dalami kandungan ayat berikut:

Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu. (At Thalaq ayat 12).

“Terima kasih” jika dikaji dalam bahasa dan dikorelasikan dengan agama maka, tulisannya harus dipisah karena amanat yang tersirat setelah kita menerima harus memberi, atau dalam kata lain setelah terima baru kasih. Inilah salah satu bentuk rasa syukur.

Namun jika kata tersebut tidak dipisah maka memiliki maksud hanya mau menerima saja dan tidak mau memberi. Mungkin kita berfikir, karakter orang yang mau menerima saja dan tidak mau memberi bisa disebut dengan…. Mengapa begitu? Karena perkataan dan tulisan adalah karakter pembicara atau penulis tersebut, dalam hal ini karakter orangnya, meskipun hal itu tidak utuh 100% betul. Padahal jika kita faham keutamaan memberi di dalam hal ini tangan di atas lebih baik daripada yang di bawah maka jika kita faham akan semangat untuk memberi daripada menerima. 

Dengan mengasih/memberi nanti kita akan dapat balasan minimal sepuluh kali lipat, seratus, seribu, sejuta, atau bahkan tidak terhingga. Memang tidak masuk di akal. Itulah bukti ilmu Allah hampir semuanya tidak masuk di akal manusia.  Bagaimanapun juga wajib kita yakini. Ini buktinya.

Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui. (Q.S Al Baqarah ayat 261)

Itu sebagai bentuk rasa syukur, dengan mensukuri maka nikmat akan bertambah. Baik nikmat umur, kesehatan, bahkan rejeki dan ilmu pengetahuan, Sekarang tinggal kita sendiri yang memilih terimakasih atau terima kasih. Yang jelas semuanya ada dampak dan konsekwensi dari apa yang sudah kita dilakukan. Semoga Allah memberi yang terbaik.

 

Oleh: Wiyono, M.Pd, Pendidik dan penulis di Al Izzah, Batu
*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com