Epidemi Ganda: Istighasah Bukan Solusi

Home / Kopi TIMES / Epidemi Ganda: Istighasah Bukan Solusi
Epidemi Ganda: Istighasah Bukan Solusi Penulis N. Fata: Kader Muda NU asal Situbondo yang menempuh Pascasarjana Megister Ilmu Politik Universitas Nasional Jakarta.

TIMESJOGJA, JAKARTASEBUAH peradaban yang maju setelah ia mengalami kehancuran. Memang kepura-puraan dalam hal kemajuan layaknya dihancurkan, agar terjadi transformasi perubahan penuh kepastian. Mungkin kalimat itu dapat dipahami secara implisit saja kendati kurang elegan dijadikan kalimat pembuka, yang sedikit merespon persoalan pandemi Covid-19.

Tapi ada baiknya memang harus disampaikan. Betapa tidak, awal mewabahnya virus ini, seolah-olah pemerintah menanggapinya biasa-biasa saja. Tidak mengkhawatirkan rakyatnya sengsara, menganggap rakyat sudah kebal dengan kesengsaraan? Seolah-olah bangsa kita canggih, sampai virus itu dinyatakan tidak terdeteksi?

Akhirnya 2 Maret 2020, Presiden Joko Widodo mengumumkan dua orang Indonesia positif infeksi Covid-19. Sejak itu, kasus Covid-19 makin bertambah di Indoesia. Dua puluh hari kemudian, pertanggal 23 Maret total kasus orang yang positif Covid-19 ada sebanyak 579. Sementara yang meninggal sebanyak 49 kasus, dan juga yang sembuh ada 30 orang.

Covid-19 begitu cepat merebah, sampai akhirnya pemerintah pusat dan daerah berlomba-lomba mengambil kebijakan dalam mencegah atau memperlambat pandemi Covid-19 ini. Balajar di rumah, kerja di rumah, beribadah di rumah dan diberlakukannya pembatasan sosial. Tak hanya itu, pembicaraan Covid-19 ada juga yang mengarahkan pada persoalan kontestasi politik. Padahal yang lebih penting bagaimana pemerintah pusat dan daerah saling bersinergi.

Dalam peradaban manusia, pandemi wabah tidak hanya pertama kali terjadi. Yuval Noah Harari dalam Homo Deus mengisahkan wabah pes pada 1330-an, nyaris membunuh 60 persen penduduk Eropa. Sementara Siddhartha Mukherjee dalam The Gane: An Intimate History juga mengisahkan pandemik Flu 1918 (biasa dikenal Flu Spanyol) yang berkembang dan mematikan, karena korban-korban flu tersebut kerap kali terserang pneumonia sekunder yang disebabkan oleh pneumokokus—yang kemudian oleh dokter dijulukinya “kapten prajurit kematian”. Wabah ini nyaris merenggut 20 juta orang di seluruh dunia.

Pada awal 1920-an, Frederick Griffith, seorang pejabat kesehatan di Kementrian Kesehatan Britania, mulai menyelidiki sejenis bakteri bernama Streptococcus Pneumoniae atau pneumokokus, yang akhirnya mampu diatasi setelah ditemukannya transformasi dari wabah tersebut. Pneumonia pneumokokus setelah infeksi influenza sedemikian mengkhawatirkan, sehingga Kementrian Kesehatan telah mengirimkan sejumlah saintis guna mempelajari bakteri tersebut dan mengembangkan vaksin untuk melawannya.

Dua buku tersebut sama-sama menyinggung bahwa manusia modern dapat menaklukan takdir lewat rekayasa gen (genetika) berteknologi tinggi. A Prasetyantoko dalam kolomnya Pandemi dan Siklus Ekonomi (Kompas, 17/03) mengatakan kejadian terakhir ini membuktikan kemampuan manusia tak sanggup mengejar risiko yang bermutasi secara revolusionir.

Epidemi Ganda

Tidak hanya Covid-19, Indonesia kali ini menghadapi epidemi ganda. Tuberkulosis juga menjadi beban yang belum teratasi. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 2017 mencatat 10 juta kasus tuberculosis (TBS) dalam setahun. Indonesia di posisi kedua dengan kasus terbanyak di dunia setelah India. Menurut Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kemenkes Wiendra Waworuntu (Kompas, 23/03), angka kasus TBC diperkirakan ada 842.000 pasien di Indonesia.

Hal ini menjadi tantangan bagi semua elemen masyarakat untuk saling membantu dalam rangka kemanusian. Terlebih khususnya pemerintah dalam upaya menangani epidemi tersebut. Sebab angka tersebut bukan sedikit, ada sekitar 39 persen kasus yang belum terdeteksi dan belum mendapatkan pengubatan.

Di tambah lagi dengan kasus Covid-19, yang setiap hari bertambah kasusnya. Sebagaimana dilaporkan Kepala Subdit TBC Program Management Kementrian Kesehatan (Kemenkes) Imran Pambudi mengatakan, Pelayanan pengobatan dan ruang-ruang inap pasien TBC terganggu, sehingga harus dialihkan ke rumah sakit lain non-rujukan Covid-19. Karena khawatir memperparah keadaan.

Ada beberapa hal penting perlu disampaikan di sini terkait dengan kasus epidemi ganda. Pertama, pemerintah harus mau mendengar kritik dan masukan, lebih-lebih dari pakar-pakar. Meskipun pada akhirnya masukan tersebut tidak cocok untuk diterapkan. Minimal mengesampingkan egosentrisme dalam mengambil kebijakan.

Kedua, profesionalisme dalam penanganan epidemi harus ditekankan dan ditingkatkan. Jangan sampai kebijakan yang berkaitan dengan keselamatan dan keamanan orang banyak digiring pada politik elektoral dan pencitraan. Jika kita melihat kasus Flu Spanyol 1918 yang telah dijelaskan di atas, persoalan wabah bukan diserahkan kepada politisi atau bahkan pemuka agama, melainkan mengutus saintis untuk mempelajari wabah tersebut.

Untuk mengatasi epidemi ganda ini, bukan dengan doa semata—seperti yang sudah disampaikan Menkes sebelumnya. Sebab dalam agama, persoalan tawakal bukan hanya pasrah diri dengan doa, melaikan usaha dalam pencegahan beserta pengobatannya. Setidaknya melakukan pencegahan dulu, baru istighasah.

Ketiga adalah komitmen dan kedisiplinan warga menjadi kunci untuk mengatasi penyakit ini. Setiap ketentuan yang diberlakukan dalam pengatasi epidemi ganda ini harus dipatuhi. Demi keselamatan nyawa kita semua, harus rela mengorbankan kebebasannya sementara sampai wabah ini dapat diatasi.

Terakhir, sebagai bentuk keprihatinan, atas persoalan ekonomi masyarakat menengah ke bawah, lebih-lebih pekerja informal, harus lebih menjadi perhatian pemerintah. Sebab masyarakat kecil tentu kebingungan atas dampak kebijakan pemerintah yang memberlakukan sosial descanting—toh meskipun hal itu penting. Jangan sampai ada warga negara terbukur dalam tumpukan nilai-nilai pancasila yang sering diperdebatkan. (*)

* Penulis N. Fata: Intelektual Muda NU asal Situbondo yang menempuh Pascasarjana Megister Ilmu Politik Universitas Nasional Jakarta.

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

 

____________
**) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: opini@timesindonesia.co.id

**) Redaksi berhak tidak menanyangkan opini yang dikirim.

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com