Sembilan Nasehat Imam Syafii

Home / Kopi TIMES / Sembilan Nasehat Imam Syafii
Sembilan Nasehat Imam Syafii Rochmat Wahab, mantan Rektor Universitas Negeri Yogyakarta

TIMESJOGJA, YOGYAKARTA – Banyak orang di muka bumi yang terlahir dan dilahirkan sebagai orang alim. Berkarakter, cerdik, pandai, dan bijak. Kehadirannya menyenangkan dan mencerahkan. Bermanfaat bagi ummat dan alam semesta. Takut kepada Allah Yang Maha Pandai dan  Maha Pencipta. Dalam sejarah kemanusiaan dan peradaban, tidak sedikit kita bisa temukan orang Alim.

Salah satunya adalah Imam Syafii. Yang nama aslinya Abu Abdullah Muhammad bin Idris asy-Syafi'i al-Muththalibi al-Qurasyi. Adalah mufti besar Sunni Islam dan juga pendiri mazhab Syafi'i. Banyak kalimat bijak dan nasehat baik yang telah disampaikan untuk ummat Islam, yang diharapkan sangat bermanfaat.

Selanjutnya perkenankan pada kesempatan yang baik ini untuk sharing sembilan nasehat dari Imam Syafii bagi ummat Islam, utamanya sahabat fb semoga bermanfaat bagi kehidupan kita.

1. "Jangan cintai orang yang tidak mencintai Allah, kalau Allah saja ia tinggalkan, apalagi kamu," (Imam Syafi’i). Ini suatu tuntunan bagi kehidupan yang baik, bagaimana kita mencintai hamba Allah yang benar. Kita hendaknya mencintai seseorang karena Allah dan bercerai dari seseorang juga karena Allah.

2. "Barang siapa yang menginginkan husnul khatimah, hendaklah ia selalu berprasangka baik dengan manusia," (Imam Syafi’i). Kita harus biasakan berprasangka baik terhadap orang lain, positive thinking atau husnudldlon. Kita harus menghargai dan respek kepada orang lain. Berusaha menjauhkan dari prasangka jelak untuk hindari dosa. Dengan tiada dosa diharapkan wafat dengan husnul khatimah. Ingat firman Allah swt, "Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa (QS Al Hujurat:12),

3. "Ilmu itu bukan yang dihafal tetapi yang memberi manfaat," (Imam Syafi’i). Ini menegaskan bahwa kita perlu mengukuhkan ilmu amaliah, artinya ilmu itu memiliki sifat utama, yaitu amaliah, sesuatu yang harus diamalkan. Ingat suatu Mahfudzat, bahwa "Ilmu yang tidak diamalkan adalah bagaikan pohon yang tak berbuah". Mafhum mukhakafahnya, bahwa "seseorang itu baru berilmu jika sudah diamalkan". Karenanya budayakan diri kita dengan mengamalkan ilmu.

4. "Jika kamu tak mau merasakan lelahnya belajar, maka kamu akan menanggung pahitnya kebodohan," (Imam Syafi’i). Bekerja keras, belajar sungguh-sungguh itu sarat penting untuk pandai, sebaliknya jika bermalas-malasan, maka akhirnya memetik kebodohan. Ingat suatu peribahasa "rajin pangkal pandai, malas pangkal bodoh".  Jika kita suka lelah dan malas belajar, jangan berharap kita bisa menjadi panda.

5. "Siapa yang menasehatimu secara sembunyi-sembunyi, maka ia benar-benar menasehatimu. Siapa yang menasehatimu di khalayak ramai, dia sebenarnya menghinamu," (Imam Syafi’i). Dalam konteks ini keikhlasan dan ketulusan menjadi faktor penting dalam pemberian nasihat. Tidak dibutuhkan sikap ria.

Seiring dengan rambu-rambu Allah dalam beramal yang perlu dirahasiakan, yaitu "seseorang yang bershadaqah dengan satu shadaqah lalu ia menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak tahu apa yang diinfaqkan tangan kanannya". Untuk supaya nasehat berarti, maka perlu dilakukan secara sembunyi-sembunyi, tidak demonstratif sekalian untuk melindungi harkat yang dinasihati.

6. "Jadikan akhirat di hatimu, dunia di tanganmu, dan kematian di pelupuk matamu," (Imam Syafi’i). Jadikan akherat selalu di hatimu, agar kau senantiasa lalui kehidupan ini merujuk pada Allah.  Senang melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya serta merasa dekat Allah. Genggamlah dunia di tanganmu, agar kau bisa senantiasa mengendalikan kehidupanmu.

Menjadikan dunia sebagai batu lompatan dan bersifat sementara. Ingatlah kematian di pelupuk matamu, agar kau tidak lengah dalam beramar ma’ruf dan bernahi munkar. Maut akan menjemput kita sewaktu-waktu, sehingga kita bersemangat untuk beramar ma’ruf dan bernahi munkar.

7. "Amalan yang paling berat diamalkan Ada 3 (tiga). (1) Dermawan saat yang dimiliki sedikit. (2) Menghindari maksiat saat sunyi tiada siapa-siapa. (3) Menyampaikan kata-kata yang benar di hadapan orang diharap atau ditakuti," (Imam Syafi’i). Salah satu sifat orang bertaqwa adalah berinfaq di kala longgar dan sempit. Ketika ditawari berzina orang wanita yang cantik, berani katakan "aku cinta kepada Allah". Selanjutnya memiliki keberanian moral dengan mengatakan yang haq itu haq dan yang bathil itu bathil di hadapan musuh.

8. "Orang yang hebat adalah orang yang memiliki kemampuan menyembunyikan kemelaratannya, sehingga orang lain menyangka bahwa dia berkecukupan karena dia tidak pernah meminta," (Imam Syafi’i). Ketika dalam kesulitan dalam kondisi apapun tidak pernah mengeluh dan menyulitkan orang lain. Lebih baik bekerja sekeras apapun sesuai kondisinya daripada minta belas keadilan orang lain. Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.

9. "Belajarlah sebelum kamu menjadi pemimpin, sebab ketika kamu telah memimpin, tidak ada lagi waktu untuk belajar." – Imam Syafi’i. Senyampang masih muda, upayakan belajar sungguh-sungguh, sebagai investasi peradaban untuk mempersiapkan diri sebagai khalifah di atas. Ketika menjadi pemimpin, yang bisa dilakukan adalah mengeksplorasi pengetahuan dan pengalaman yang relevan dengan adaptasikan semua yang dimiliki untuk bisa menjawab persoalan pada jamannya.

Demikianlah sembilan nasehat Imam Syafi’i yang patut direnungkan diimplementasikan untuk perbaikan hidup kita masing-masing. Dengan begitu diharapkan bahwa kita bisa menjalani hidup ini dengan bahagia dan sejahtera yang mudah-mudahnya  bisa menjadi ladang kita untuk meraih kebagiaam yang haqiqi di akhirat. Utamanya dewasa ini kita merasakan kehidupan sulit sebagai akibat dari pandemi Covid-19.

***

*) Penulis adalah Prof Dr Rochmat Wahab, Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Periode 2009-2017, anggota Mustasyar PW Nahdlatul Ulama (NU) DIY, Pengurus ICMI Pusat, Dewan Pakar Psyco Education Centre.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

***

**) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: opini@timesindonesia.co.id

**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com