Kiat Meraih Kebahagiaan

Home / Kopi TIMES / Kiat Meraih Kebahagiaan
Kiat Meraih Kebahagiaan Rochmat Wahab (Grafis: TIMES Indonesia)

TIMESYOGYAKARTA, YOGYAKARTAMeraih kebahagiaan merupakan kebutuhan semua orang di manapun dan kapanpun. Sebaliknya, mereka ingin menghindari kesengsaraan dan kenistapaan, bahkan keterpurukan. Kebahagiaan bisa menjadi motivasi positif dalam meraih kesuksesan hidup yang tidak hanya di dunia saja, melainkan juga di akhirat.

Dan Gilbert menyatakan ada tiga temuan utama berkenaan denga kebahagiaan, yaitu (1) we can’t be happy alone, artinya bahwa kita tidak bisa bahagia dengan sendirian, karena kita ini makhluk sosial.

Apa arti bahagia jika hanya dirasakan sendiri? (2) We can’t be happy all the time, artinya bahwa kita tidak akan pernah bahagia sepanjang waktu, karena normalnya tidaklah mungkin bahwa suasana emosi itu terus positif, suatu saat bisa saja tiba-tiba down, baik karena faktor internal maupun faktor eksternal, dan (3) we can be happier than we are currently, artinya bahwa sangatlah mungkin kita bisa meraih kebahagiaan yang lebih, hanya karena kita melakukan perubahan minor. Itu tidak terlalu sulit, kecuali harus melakukan perubahan besar.

Margarita Tartakovsky (2018) menjelaskan ada 5 jalan menuju kebahagiaan, (1) using our strengths, artinya menggunakan kekuatan kita sendiri. Memelihara kekuatan kita sendiri dapat mengarahkan kepada kebahagiaan. Jika kita memiliki pemimpin yang lebih kuat, maka kita akan merasa bahagia, (2) gratitude, artinya mengapresiasi apa yang telah didapatkan. Keuntungan gratitude adalah menciptakan emosi positif, hubungan yang lebih baik dan kesehatan lebih baik juga, (3) savoring, artinya merasakan nikmatnya sesuatu pada momen tertentu. Kesadaran membantu kita bagaimana menikmati sesuatu, (4) flow, artinya bahwa seseorang akan merasa bahagia, jika menyatu dengan sesuatu kegiatan, dan (5) a meaningful life, artinya bahwa suatu kehidupan yang bermakna, jika kita melakukan sesuatu bukan untuk kita sendiri. Kita bisa bahagia jika berkarya secara produktif bukan untuk dirinya sendiri, tapi untuk orang lain.

Julian Hayes II mengemukakan 11 cara untuk menjamin kebahagiaan yang merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari, di   antaranya (1) Tunjukkan prestasimu, (2) masukkan sesuatu yang kecil yang Anda cintai ke dalam jurnal harian Anda, (3) Lakukan apa yang Anda cintai, (4) Buatlah suatu lukisan hari Anda yang paling sempurna, (5) Letakkan dirimu di atas lainnya, (6) Ceritakan bahwa dirimu hari ini akan menjadi kebanggaan, (7) Lupakan untuk menjadi sempurna dan terima apa adanya, (8) Lingkupi dirimu dengan teman-teman yang benar, (9) Berhentilah dari rasa takut dan tetap terus bergerak, (10) Keluarlah dari zona aman, dan (11) Selamat menikmati sebuah lagi yang bagus.

Setelah kita mencermati berbagai persoalan kebahagiaan yang sifatnya universal, selanjutnya marilah kita fokus pada perspektif Islam. Definisi bahagia, dalam tradisi ilmu tasawuf, seperti yang disampaikan Imam al-Ghazali, dalam karyanya yang monumental Ihya Ulumiddin, merupakan sebuah kondisi spiritual, saat manusia berada dalam satu puncak ketakwaan. Bahagia merupakan kenikmatan dari Allah swt. Kebahagiaan itu adalah manifestasi berharga dari mengingat Allah.

Selanjutnya bahwa  hakekat kebahagiaan adalah kebahagiaan akhirat. Ingat bahwa kebahagiaan akhirat itu lebih baik dan lebih abadi. Walaupun kita tidak boleh abaikan kebahagiaan dunia. Sebagaimana yang Allah swt tegaskan pada QS Al Qashash:77, bahwa “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.

Kebahagiaan dunia tetap kita cari sama pentingnya dengan kebahagiaan akhirat, sebagaimana doa utama yang sering kita panjatkan ke hadirat-Nya, yaitu “Rabbanaa aatinaa fid dun-ya hasanah, wa fil-aakhirati hasanah, waqinaa ‘adzaaban naar”. Bahkan idealnya kita berdoa mendapat tempat yang terbaik di syurga tanpa melewati neraka dulu walaupun sebentar.

Allah SWT sudah mengingatkan, andaikan penduduk suatu wilayah mau beriman dan bertakwa maka pasti akan dibuka pintu-pintu berkah dari langit dan bumi. Tetapi mereka mendustakan ajaran-ajaran Allah. Maka Allah mengazab mereka karena perbuatan mereka sendiri (QS al-A’raf:96).

Sebuah syair dalam bahasa Arab menyebutkan, “Wa-lastu araa as-sa’adata jam’u maalin wa-laakin at-tuqaa lahiya as-sa’iidu.” Artinya, kebahagiaan bukanlah mengumpulkan harta benda, tetapi takwa kepada Allah. Apalagi kalau kita tidak bisa memanaj harta dengan baik, justru bisa membuat celaka di dunia dan akhirat.

Jika menginginkan suatu kebahagiaan yang hakiki, maka satu-satunya cara yang paling ampuh dan efektif adalah meningkatkan taqwa, dengan berkomitmen dan istiqamah menjalankan perintah-Nya dan menjauhi latangan-Nya.

Dengan begitu, kita yakin akan memperoleh kebahagiaan yang hakiki dunia dan akhirat. Semoga Allah selalu menjaga hati kita untuk selalu taqarrub ilallaah. Aamiin. (*)

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com