Membangun Bima dan Indonesia dengan Konsep Sultan Muhammad Salahuddin

Home / Kopi TIMES / Membangun Bima dan Indonesia dengan Konsep Sultan Muhammad Salahuddin
Membangun Bima dan Indonesia dengan Konsep Sultan Muhammad Salahuddin Rahmat Zuhair, Mahasiswa IPB University dan Peserta Rumah Kepemimpinan

TIMESJOGJA, MALANGBangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan sejarah.

Begitulah kutipan dari Proklamator Indonesia ketika berbicara di depan ribuan rakyat ketika itu. Membaca dan mendalami kembali pemikiran dari tokoh tokoh terdahulu harusnya menjadi hal yang wajib bagi orang orang yang ingin mengadakan perubahan bagi lingkungan dan kondisi sosialnya.

Menyelami pemikiran dan pengalaman perjuangan para tokoh yang pada masanya mencurahkan pikiran dan tenaganya untuk menciptakan peradaban yang lebih baik untuk generasi selanjutnya.

Bima, sebuah daerah di NTT. Begitulah kebanyakan orang membayangkan Bima dalam bentangan peta Indonesia. Tetapi pada dasarnya hal ini bagi penulis adalah sebuah tantangan dan pertanyaan, apakah dou mbojo khususnya pemuda Bima sudah menjadi Duta terbaik yang dimiliki oleh Bima atau masih menjadi objek dalam peradaban Indonesia saat ini. Tetapi, pemuda Bima setidaknya pernah menjadi hakim dalam penentuan 2 Presiden dan Wakil Presiden Indonesia di masanya.

Moral hazard dari para Birokrat, perbuatan amoral dari masyarakat, dan masih banyak lagi fenomena yang memprihatinkan kondisi Bima saat ini. Ketika membaca media lokal masih banyak perbuatan kriminal daripada prestasi yang ditampilkan. Sungguh miris. Mulai kasus narkoba, pembunuhan, konflik antar desa masih menjadi isu yang tampil di layar media lokal Bima.

Apakah para tokoh Bima tidak meninggalkan konsep kehidupan yang baik kepada generasi saat ini? Tentu pertanyaan itu kurang tepat karena konsep konsep kehidupan dari Tokoh tokoh besar Bima masih terngiang saat ini tetapi yang menjadi kendala adalah kesadaran.

Bima mempunyai beberapa tokoh yang seharusnya menjadi idola bagi para pemudanya, tentunya akan menjadi idola bagi masyarakat Indonesia ketika konsep dari tokoh pahlawan dari Bima tercermin dari kehidupan kita sehari hari. Sultan Muhammad Salahuddin adalah salah satu contohnya. Konsep pengelolaan masyarakat dan peradaban terbaik pernah diterapkan di Tanah Bima, yaitu:

Pendidikan Agama

Peningkatan kualitas Iman dan Taqwa menjadi fokus utama pembangunan fondasi pembentukan peradaban yang baik di tanah Bima. Sultan yang bergelar 'Ma Kakidi Agama' yang artinya 'Menegakkan Agama' ini menjadikan pendidikan agama untuk menangkal kebudayaan global yang disebarluaskan oleh Penjajah dari barat pada masa itu. Konsep ini sangat penting dimasa sekarang karena pada dasarnya agama menjadi tameng dalam menjaga kebudayaan dan identitas suatu bangsa, sehingga kebudayaan Indonesia dapat kita jaga dan tidak tercipta mental-mental barat yang sedikit sedikit impor dan konsumtif pada barang luar negeri.

Pendidikan Modern

Selama membaca buku 'Jejak Para Sultan Bima' penulis mendapati semangat perubahan dan pikiran visioner dari Sultan Muhammada Salahudiin yaitu ketika mencoba menerapkan pembelajaran modern dan juga menghadirkan guru guru dari luar untuk menambah pemahaman masyarakat Bima agar tidak tertinggal dalam hal keilmuan modern. Pesan dari konsep yang kedua ini adalah selain mempelajari Ilmu agama generasi muda Bima khsusunya dan umumnya Indonesia harus mengikuti perkembangan pengetahuan pengetahuan modern. Wawasan yang luas dan terupdate adalah modal untuk menjadi pahawan peradaban dan menjadi problem solver dalam sebuah lingkungan sosial.

Pergerakan atau Politik

Langkah selanjutnya yang dilakukan oleh Sultan Muhammad Salahuddin adalah dengan menggunakan konsep pergerakan/Politik. Sedari kecil beliau telah belajar banyak hal terutama strategi pergerakan dan politik sehingga ketika menjelang usia remaja beliau sudah paham dan mampu menjadi penggerakan dalam menyelamatkan Bima dari serangan penjajah ketika itu. Semangat untuk bergerak dan kesabaran dalam menyusun strategi dan juga menuntut ilmu menjadi hal yang wajib kita pelajari dari sosok sultan Bima yang namanya diabadikan menjadi nama Bandara di Bima ini. 

Kekuatan Ilmu Agama akan melahirkan akhlak dan keoptimisan dalam berjuang karena masyarakat yang dibangun dengan konsep keagamana akan lebih semanagat dalam berjuang karena pondasi dari kesemuanya sudah dibangun dan masyarakat memiliki identitas tersendiri sehingga tidak gampang terpengaruh oleh paham dan kebudayaan luar yang negatif.

Selanjutnya tidak ketinggalan mengenai ilmu ilmu modern menjadi hal yang wajib diupdate dan menjadi sebuah keharusan dalam mempelajarinya karena zaman semakin berkembang tentunya kita semua harus menyesuaikannya dengan ilmu pengetahuan yang kita punya dan terakhir adalah kemauan dalam bergerak untuk menciptakan peradaban yang lebih baik untuk Bima dan Indonesia.  

Dengan ketiga konsep di atas Sultan Muhammad Salahuddin berani memproklamirkan bahwa Bima adalah bagian dari NKRI kepada Soekarno yang pada saat itu sedang berkunjung ke Bima. Tentunya kita pun sebagai pemuda bisa menjadi penggerak dan proklamator. Indonesia adalah milik semua warga negara Indonesia, bukan milik oligarki. Ketika tiga konsep Sultan Muhammad Salahuddin kita pelajari dan konsisten menanamkan dalam kehidupan sehari hari.

* Penulis: Rahmat Zuhair, Mahasiswa IPB University dan Peserta Rumah Kepemimpinan

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com