UII Gelar Kuliah Umum Tentang Fenomena Likuifaksi dan Kegempaan

Home / Pendidikan / UII Gelar Kuliah Umum Tentang Fenomena Likuifaksi dan Kegempaan
UII Gelar Kuliah Umum Tentang Fenomena Likuifaksi dan Kegempaan Prof Paulus Rahardjo saat memberikan kuliah umum Likuifaksi dan Kegempaan di Kampus Terpadu UII. (FOTO: Ahmad Tulung/TIMES Indonesia)

TIMESYOGYAKARTA, YOGYAKARTA – Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) Universitas Islam Indonesia (UII) menggelar kuliah umum dengan mengangkat tema Likuifaksi dan Kegempaan pada Senin (27/1/2020) di Auditorium Lt. 3, Gedung Mohammad Natsir kampus setempat.

Prof Paulus Rahardjo Dosen Departemen Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Katolik Parahyangan dalam pemaparan materinya menyampaikan Indonesia merupakan pertemuan dari 3 lempeng tektonik, yaitu lempeng Eurasia, lempeng Indo-Australia dan lempeng Pasifik. Lempeng tersebut mengalami pergerakan dan saling berinteraksi satu dengan yang lain, baik itu pergeseran maupun tumbukan.

“Pertemuan lempeng tektonik menyebabkan adanya aktivitas aktif lempeng berupa pembentukan dataran tinggi, gunung berapi dan gempa bumi. Kawasan pertemuan lempeng ini atau disebut Ring of Fires memiliki potensi yang cukup besar terhadap bencana alam seperti Gempa Bumi," ungkapnya.

Menurutnya, Gempa Bumi yang terjadi di sepanjang Ring of Fires diakibatkan oleh pergerakan lempeng bumi, yang disebabkan oleh pelepasan energi yang cukup besar. Berdasarkan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) tercatat sebanyak 11.473 Gempa terjadi sepanjang tahun 2019 dan sebanyak 11.920 kejadian Gempa di tahun 2018.

Paulus menuturkan, salah satunya adalah Gempa Bumi yang terjadi di Sulawesi Tengah pada tanggal 28 September 2018 dengan kekuatan sebesar 7,4 Mw yang terjadi di wilayah Donggala  Palu  Sigi - Parigi Moutong. Berdasarkan data BMKG gempa berkekuatan VIII MMI tersebut berada di wilayah Donggala dengan pusat gempa di darat 26 km Utara Donggala - Sulawesi Tengah, pada kedalaman 11 km.

“Fenomena Gempa bumi tersebut menyebabkan terjadinya likuifaksi di wilayah Petobo, Balaroa dan Jono Oge yang menyebabkan korban jiwa dan tertimbunnya rumah-rumah," tutur Paulus

Namun demikian, yang menyebabkan gempa sebetulnya adalah karena bumi kita itu masih aktif bergerak.

Menurut teori bencana bahwa inti bumi itu terdiri dari material yang masih sangat panas, logam temperaturnya mencapai 4000-5000 derajat. Kemudian ditengahnya ada mantle, lalu mantle inilah yang kemudian bergerak secara convection maka plate yang ada di luar permukaan itulah yang bergerak.

Sampai sekarang plate bumi kita itu masih bergerak sekitar 7 cm per tahun,  peristiwa gempa terjadi tumpukan antara plate sehingga menimbulkan suatu patahan. Patahan inilah yang dinamakan sesar, katanya

Likuifaksi merupakan peristiwa hilangnya daya dukung tanah akibat getaran Gempa Bumi, yang terjadi secara tiba-tiba dalam waktu singkat. Akibat getaran tersebut menyebabkan adanya peningkatan tekanan air pori yang diikuti dengan peningkatan volume tanah dan penurunan tegangan tanah hingga mencapai nol.

“Peningkatan volume tanah tersebut mengakibatkan hilangnya kontak antar partikel yang diikuti berkurangnya daya dukung tanah," jelasnya.

Ia menambahkan, liquafaction menurut defenisi geoteknik berbeda, definisi yang paling baru yaitu suatu fenomena dimana tanah pasiran jenuh hilang kekuatan gesernya secara signifikan dan mengalir pada volume yang tetap, tegangan geser tetap dan tegangan efektif tetap. Kondisi ini akibat daripada peristiwa kenaikan tekanan air pori.

Paulus menambahkan, untuk mengurangi risiko jumlah korban manusia dan kerugian harta benda akibat gempa bumi, maka banyak usaha yang harus dilakukan, diantaranya adalah menurunkan kerentanan bangunan, menurunkan ekspos dan meningkatkan kualitas dan kapasitas sumber daya manusia.

Lanjutnya, untuk menurunkan kerentanan bangunan banyak hal yang harus dilakukan mulai dari perbaikan kualitas desain, perbaikan kualitas pembangunan (construction) dan peningkatan kualitas perawatan bangunan.

Perbaikan kualitas desain dapat diperoleh dengan perbaikan Pedoman Perencanaan Bangunan Tahan Gempa dan peningkatan kompetensi SDM.

Selain itu, baru-baru ini telah diterbitkan SNI 1726, 2019 yang pada intinya adalah pemutakhiran dan penyempurnaan pedoman beban gempa. Pada SNI 1726, 2019, selain metode Respons Spektrum, maka mulai diizinkan memakai metode Analisis Riwayat Waktu (Time History Analysis, THA) untuk keperluan analisis struktur.

“Dengan dilaksanakan kuliah umum Likuifaksi dan Kegempaan ini diharapkan memberikan gambaran dan pemahaman kepada mahasiswa, akademisi, praktisi dan dunia industri sehingga dapat bersama-sama melakukan mitigatif dan pencegahan melalui perencanaan bangunan yang dilakukan, dan upaya -upaya mitigatif lainnya sesuai bidang masing-masing," kata Dr. Ir. Kasam, MT Wakil Dekan Bidang Sumber Daya FTSP UII. (*)

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com